Berawal dari ‘Kluyuran’
Identitas Buku
· Judul : Sapardi Djoko Damono, Karya dan Dunianya
· Penulis : Bakdi Soemanto
· Penerbit : PT Grasindo
· Cetakan : I, tahun 2006
· Peresensi : Bayu Dwi Nurwicaksono
Malam itu 20 Maret 1940 terlahirlah seorang bayi laki-laki. dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Ya dialah Sapardi Djoko Damono, sosok yang pemberani nan teguh pendirian. Awalnya kehidupan keluarga Sadyoko termasuk berkecukupan. Namun keadaan tersebut berubah drastis seiring dengan datangnya tentara Jepang di Indonesia. Waktu terus berlalu, kemerdekaan pun telah diraih. Namun pascaproklamasi tak menjamin keadaan menjadi aman dan tenteram. Pasukan Belanda kembali memasuki wilayah Indonesia untuk berspekulasi menjajah negeri ini. Saat itu pemerintah Hindia Belanda sangat gencar memburu pemuda. Mereka beranggapan bahwa para pemudalah yang biasa melakukan perlawanan. Kondisi yang demikian memaksa Sadyoko yang sebenarnya bukan pejuang dan gerilyawan Indonesia ikut melarikan diri ke luar kota dan meninggalkan anak istrinya demi keselamatannya.
Tahun 1943, dengan tekad yang bulat, keluarga Sadyoko memutuskan untuk hidup berpisah dari keluarganya. Keputusannya itu membuat mereka harus menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung. Dua tahun kemudian keluarga Sadyoko kembali pindah rumah. Kali ini ia pindah ke Ngadijayan. Sebuah desa yang tak jauh dari pusat Kota Solo. Suasana di daerah ini sangatlah ramai meski tak seramai sekarang. Di berbagai tempat di kampung itu sering diadakan pertunjukan wayang kulit. Selain itu rumah-rumah penduduk di kampung itu juga banyak dibuka sebagai tempat penyewaan buku serta suasana malam yang diterangi oleh listrik membuat kampung itu terasa lebih hidup.
Sapardi kecil ialah seorang bocah yang suka kluyuran. Kampung Ngadijayan pun menjadi tempat kluyuran yang tak habis-habisnya untuk dijelajahi. Namun ketika Sapardi beranjak remaja, ia pun kembali pindah rumah yakni di kampung Komplang, sebelah utara kota Solo. Suasana di kampung ini tak seramai di Kampung Ngadijayan. Bahkan listrik pun belum masuk ke daerah ini. Suasana yang menurutnya aneh ini menyebabkan ia memiliki banyak waktu luang dan kesendirian yang tidak bisa ia dapatkan di kota
Keputusannya untuk lebih banyak tinggal di rumah, tak membuat hobi kluyurannya berhenti. Memang secara kasat mata ia tidak lagi kluyuran. Namun dunia batinnya yang kluyuran sambil membongkar pasang kata-kata. Setelah sebulan ia belajar menulis, karyanya yang berupa sajak mulai menghiasi majalah-majalah kebudayaan di Semarang dan tahun-tahun berikutnya sajak-sajak buatannya mulai dimuat di kolom-kolom kebudayaan berbagai penerbitan yang antara lain diasuh oleh H.B. Jassin. Sejak saat itu ia mulai dikenal sebagai sastrawan.
Itulah sepenggal cerita sosok Sapardi Djoko Damono yang diungkap secara gamblang oleh guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini. Buku dengan sampul dominan warna biru ini mengungkap semua hal yang berkaitan dengan Sapardi. Baik karya maupun dunianya. Puisi-Puisi Awal, duka-Mu Abadi, Aquarium dan empat kumpulan puisinya yakni Hujan Bulan Juni, Ayat-Ayat Api, Mata Jendela, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, serta kumpulan cerpennya selama ini juga diungkap dalam buku ciptaan penulis asal Solo ini. Buku jenis nonfiksi ini terasa pas dibaca oleh mahasiswa, dosen serta mereka yang mengaku sebagai pecinta sastra.
Pokok pikirannya yang dijelaskan secara detail dan penggunaan bahasa yang sederhana serta alur ceritanya yang pas membuat buku ciptaan dosen UGM yang pernah menjabat sebagai ketua umum Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta ini enak dibaca. Hanya satu yang disayangkan dalam buku ini yakni desain sampulnya yang kurang menarik. Seharusnya buku yang bermanfaat untuk menambah wawasan dan khasanah di bidang sastra ini memiliki sampul yang menarik agar ketika mata seseorang tertuju pada buku ini maka ia akan tertarik untuk membacanya selain melihat judul bukunya pula.
Sumber inspirasi dan daya cipta seorang pengarang itu berbeda-beda. Ada pengarang yang mulai menulis dari munculnya ide. Ada pula pengarang yang mulai menulis dari rangsangan ketika melihat secarik kertas dan pena atau sebuah mesin ketik di hadapannya. Nah termasuk yang manakah sosok Sapardi Djoko Damono dalam mencipta setiap karyanya. Jawaban pertanyaan ini dapat kita temukan dalam buku ini.
Resensi ini pernah dimuat di Tabloid Gema,
Pers Kampus Unesa
kluyuran yang bermanfaat tuh! kalo jaman sekarang mungkin Beliau bisa mengganti kegiatan kluyurannya dengan surfing internet. emang menyenangkan kluyuran di internet tuh 3 jam nggak kerasa udah mellanglang buana ke penjuru sudut dunia. Go ahead Bayu
BalasHapuswww.parentinglink.blogspot.com
Salam,
BalasHapuskami menyediakan buku-buku karya Pak Sapardi Djoko Damono. Jika berminat, silakan kunjungi www.rumahbelanjaaulia.wordpress.com
Terimakasih