Jumat, 24 April 2009
Ku Mau Kau Seperti .... (Bag. 2)
(Surat-surat kepada wakil rakyatku yang lolos dalam Pileg)
Surabaya, 24 April 2009
Meski nama-nama itu kusebutkan secara gamblang, namun penekanan utamaku bukan pada sosok orangnya. Lebih dari itu, nilai-nilai moral yang dibawanyalah yang lebih penting. Hal ini perlu kusampaikan kepadamu karena ku tak ingin kau seperti sosok tokoh-tokoh itu karena kau adalah kau. Kau tak bisa menjadi orang lain karena kau tentu memunyai jatidiri.
Kawanku, dunia pendidikan merupakan bidang yang strategis dalam membangun bangsa. Kau tentu tahu bahwa pascapemboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang merupakan negara yang tak berdaya. Namun kini ia telah bangkit dan menjadi salah satu kekuatan dunia. Pendidikan, itulah titik simpul yang ia tarik guna membangun kembali negaranya. Titik kehancuran Jepang 64 tahun yang lalu setelah Indonesia merdeka sebenarnya dapat diibaratkan garis start menuju finish menjadi negara maju. Jika demikian kita harus mengakui bahwa kita tertinggal oleh laju perkembangan Jepang yang telah jauh melaju di lintasan negara-negara maju dunia.
Jika kita cermati negara lain yang sukses melewati lintasan negara-negara berkembang, kita tak perlu jauh mencari negara tersebut. Ya, negeri jiran, Malaysia merupakan contoh negara sukses tersebut. Lagi-lagi jika kita runut kebijakan-kebijakan publiknya, Malaysia tak jauh berbeda dengan komitmen Jepang dalam menomorsatukan bidang pendidikan.
Alasannya Jepang, Malaysia, dan negara-negara lain yang memprioitaskan bidang pendidikan sebagai titik awal membangun bangsa tampaknya tak berlebihan, karena dengan baiknya kualitas pendidikan maka kualitas sumber daya manusia pun dapat dijamin. Jika sumber daya manusianya bagus maka sumber-sumber daya alam yang dipunyai negara tersebut dapat dimanfaatkan secara arif untuk kesejahteraan dan kepentingan negara.
Kawanku, barangkali pengalaman dua negara tersebut cukup bagi pemangku-pemangku kebijakan untuk merefleksikan diri dan bahu-membahu berjuang bersama secara konsisten dalam memajukan kualitas pendidikan Indonesia. Setelah sekian lama, pemerintah mengkhianati amanah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Baru tahun ini, pemerintah mengesahkan anggaran pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Meski terkesan terlambat kita patut mengapresiasi upaya pemerintah yang perlahan memperbaiki kualitas pendidikan ini.
Kawanku, seiring dengan perkembangan kualitas demokrasi, pembelajaran demokrasi mulai diterapkan di segala bidang. Tak terkecuali bidang pendidikan. Saat ini, dinas pendidikan propinsi, kota/ kabupaten, bahkan sampai pada lini sekolah telah diberi kesempatan memikirkan bagaimana pembangunan dan kesejahteraan di daerah dapat dipercepat melalui peningkatan kualitas visi pendidikan yang membumi dan bernilai guna secara langsung bagi masyarakat.
Kawanku, perkembangan dunia pendidikan saat ini tengah bergerak menuju ke arah yang baik. Mulai anggaran pendidikan yang telah mencapai 20 persen, pendidikan yang dijalankan secara desentralisasi berbasis keunggulan lokal dan karakter daerah, penghargaan profesi guru dan dosen melalui sertifikasi, hingga proses pembelajaran yang mengutamakan peran aktif siswa dan mahasiswa dalam mencapai kompetensi.
Nah kawanku sekaranglah saatnya kau melanjutkan kebijakan-kebijakan yang cukup positif tersebut dan terus mengawal komitmen pemerintah dalam dunia pendidikan ini. Peranmu nanti jika terpilih sebagai wakil rakyat harus dapat menjadi teladan bagi pemangku-pemangku kebijakan di daerah agar tidak menjadi raja-raja kecil di daerahnya alias menjadi preman-preman baru birokrasi di daerah. Ku mau kau setegas Goenawan Mohammad, sepeka W.S. Rendra, serela Ceriyati, dan seberarti Amien Rais dalam menjalankan tiga fungsimu di parlemen, yakni fungsi pembuat kebijakan melalui undang-undang, fungsi pengawasan terhadap kinerja eksekutif, dan fungsi penganggaran.
Kawanku, nilai-nilai moral seperti itu penting karena prioitas pendidikan yang telah menjadi kebijakan ini akan secara otomatis berkorelasi positif dalam peningkatan kualitas pendidikan hanya jika dibarengi dengan mental para pemangku kebijakan dan pelaku pendidikan yang baik pula. Masalah kronis bangsa ini sebenarnya ialah permasalahan mental akut. Indonesia tak bisa segera keluar dari kubangan krisis ekonomi, salah satu penyebabnya adalah para oknum pejabat pemerintah yang tak bertanggung jawab. Oleh karena itu sungguh ku mau kau seperti. Empat sosok tokoh yang telah kujelaskan di atas ialah sosok tokoh-tokoh yang luar biasa. Akan menjadi sangat luar biasa jika keempat nilai kebajikan yang dibawa oleh masing-masing tokoh tersebut melebur pada satu jiwa, satu raga. Ku mau kau yang memiliki satu jiwa- satu raga itu.
Kawanku, surat yang kukirim ini adalah surat kedua yang pernah kubuat untuk pemerintahan. Lima tahun yang lalu saat pemerintahan Megawati Soekarno Putri, kulayangkan surat yang mengkritisi pemerintahan pada saat itu. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA. Tanpa kuduga, Presiden Megawati Soekarno Putri bersama Bapak Taufik Keimas justru mengundangku bersama empat siswa SMA dari daerah lain untuk mengikuti detik-detik proklamasi di Istana Negara. Kuharap dua suratku ini juga bermanfaat mengiringi langkahmu menuju gedung dewan.
Akhirnya kuucapkan selamat berjuang dan berkomitmen menjadi seperti. Semoga surat yang kutulis khusus untukmu ini berarti bagi awal perjuanganmu di dunia perwakilan rakyat. Semoga sukses selalu kawanku. Amin!
Bayu Dwi Nurwicaksono
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
Ku Mau Kau Seperti .... (Bag. 1)
(Surat-surat kepada wakil rakyatku yang lolos dalam Pileg)
Surabaya, 30 Maret 2009
Wakil rakyatku, ku mau kau seperti ….
Kawanku, barangkali kita memunyai persamaan dan perbedaan dalam dunia kelegislasian. Persamaannya adalah kita sama-sama berkecimpung dan berjuang di dunia perpolitikan. Sama-sama memperjuangkan kehidupan rakyat. Perbedaannya aku telah menjadi wakil rakyat di negeriku (baca: kampus) sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (MPM Unesa Masa Bakti 2007) dua tahun silam, sedangkan kau belum namun akan menjadi wakil rakyat di negeri Indonesia raya ini.
Kawanku senasib seperjuangan menjadi anggota legislatif bukanlah hal yang mudah dan enak. Kau harus tahu tentang hal itu. Pengalamanku di dunia lembaga perwakilan rakyat, meski hanya lingkup kampus memberikan pelajaran dan gambaran tentang dunia wakil rakyat. Kepandaian dalam mengelola kecerdasan emosional, sosial, fisik, kognitif, dan reflektif yang oleh Barbara K. Given, seorang direktur pusat riset pembelajaran di Universitas Mason, Fairfax, Virginia, Amerika Serikat disebut sebagai sistem pembelajaran teater pikiran ini tampaknya harus kau terapkembangkan.
Kawanku, calon wakil rakyatku, “ku mau kau seperti ….”. Begitulah judul surat yang kukirim padamu. Kau mungkin berpikir bahwa aku akan menginginkanmu seperti sosok yang ada di balik tanda titik-titik itu. Jika begitu dugaanmu maka tak salah asumsimu itu. Namun demikian tidak sepenuhnya benar. Ya, karena kata seperti pada judul surat ini adalah kependekan dari kata setegas …, sepeka …, serela …, dan seberarti …
Pengin tahu siapa sosok di balik tanda titik-titik itu? Inilah saatnya kusampaikan kepadamu bahwa ku mau kau
1.Setegas Goenawan Mohammad
Goenawan Mohammad ialah sosok yang tegas dan pemberani. Komitmennya terhadap kebebasan jurnalisme meriwayatkan dirinya beserta majalah mingguan Tempo menjadi legenda sejati jurnalisme Indonesia. Saat itu, 21 Juni 1994 wartawan dan karyawan, kios dan pengasong, serta para pembaca kehilangan ritus mingguannya karena sejak itu Tempo direnggut oleh pemerintah yang marah lantaran menurunkan berita tentang pembelian 39 kapal bekas militer Jerman Timur yang berarti membocorkan aib negara. Pemerintah saat itu menawarkan opsi, meminta maaf atau majalahnya dibredel. Dengan tegas ia memilih opsi kedua. Baginya lebih baik kehilangan Surat Izin Usaha Penerbitan dan Pers (SIUPP) dan majalahnya ditutup daripada mengakui kesalahan yang ia rasa tidak melakukannya.
2.Sepeka W.S. Rendra
Willybrordus Surendra Broto Rendra ialah penyair dan dramawan Indonesia yang sering dicekal dan dipenjarakan pemerintah Orde Baru lantaran sejumlah karya dan aksinya yang peka dan kritis menangkap realita kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Salah satunya adalah pentas drama Mastodon dan Burung Kondor yang merupakan repertoir gubahan Rendra yang dimainkan oleh kelompok teaternya. Cerita Mostodon dan Burung Kondor adalah kisah tentang militer yang berkuasa dan melaksanakan pembangunan, mahasiswa yang melakukan perlawanan revolusioner, dan ada penyair yang menentang keduanya. Meski latar kisah ini di Amerika, namun pentas itu sangat efektif menyindir keadaan Indonesia.
3.Serela Ceriyati
Ceriyati ialah perempuan pemberani yang membuat publik Malaysia dan Indonesia terhenyak pada 17 Juni 2007 lalu. Dengan muka memar dan badan penuh luka, ia bergelayutan pada seutas tali yang dibuatnya dari sobekan-sobekan kain, lalu nekat turun dari lantai 15 apartemen Tamarind Sentul, Kualalumpur, Malaysia. Luar biasa! Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal desa Poncol, Brebes, Jawa Tengah ini sempat terhenti di lantai 12 hampir satu jam terkatung-katung limbung diterpa angin di ketinggian itu. Hingga akhirnya seorang petugas pemadam kebakaran datang menyelamatkannya.
Kerelaan hati Ceriyati mengadu nasib di negeri seberang demi mengumpulkan Ringgit untuk anak keluarganya di kampung ini merupakan pengorbanan yang patut diteladani. Semangat kerja keras dan rela berkorban seperti ini mestinya menjadi bekal para wakil rakyat yang akan duduk di Senayan nanti.
4.Seberarti Amien Rais
Amien Rais ialah tokoh utama lahirnya reformasi di Indonesia pada 1998. Berkat keberaniannya dalam mengkritisi kelanggengan pemerintahan Orde Baru selama lebih dari tiga dasawarsa, Indonesia memasuki pembabakan baru dalam perjalanan sejarah bangsa. Pascareformasi memang masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan dengan baik. Namun kita tidak bisa menutup mata bahwa keadaan saat ini dari berbagai bidang bisa dikatakan lebih baik. Oleh karena itu, tak berlebihan jika sosok Amien Rais disebut sebagai salah satu tokoh penting yang berarti bagi awal perubahan Indonesia yang lebih baik. Nilai keberartian dan semangat reformasi ini kuharap bisa kau adaptasi jika nantinya kau terpilih sebagai wakil rakyat. Mereformasi citra lembaga perwakilan rakyat yang selama ini terkenal sebagai lembaga terkorup, lembaga yang penuh skandal, lembaga yang suka mengahambur-hamburkan uang dan bermewah-mewahan menjadi lembaga yang penuh kebijaksanaan, penuh pengorbanan demi kesejahteraan rakyat, dan penuh kesopanan serta kesantunan.
Bayu Dwi Nurwicaksono
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
Berawal dari 'Kluyuran'
Berawal dari ‘Kluyuran’
Identitas Buku
· Judul : Sapardi Djoko Damono, Karya dan Dunianya
· Penulis : Bakdi Soemanto
· Penerbit : PT Grasindo
· Cetakan : I, tahun 2006
· Peresensi : Bayu Dwi Nurwicaksono
Malam itu 20 Maret 1940 terlahirlah seorang bayi laki-laki. dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Ya dialah Sapardi Djoko Damono, sosok yang pemberani nan teguh pendirian. Awalnya kehidupan keluarga Sadyoko termasuk berkecukupan. Namun keadaan tersebut berubah drastis seiring dengan datangnya tentara Jepang di Indonesia. Waktu terus berlalu, kemerdekaan pun telah diraih. Namun pascaproklamasi tak menjamin keadaan menjadi aman dan tenteram. Pasukan Belanda kembali memasuki wilayah Indonesia untuk berspekulasi menjajah negeri ini. Saat itu pemerintah Hindia Belanda sangat gencar memburu pemuda. Mereka beranggapan bahwa para pemudalah yang biasa melakukan perlawanan. Kondisi yang demikian memaksa Sadyoko yang sebenarnya bukan pejuang dan gerilyawan Indonesia ikut melarikan diri ke luar kota dan meninggalkan anak istrinya demi keselamatannya.
Tahun 1943, dengan tekad yang bulat, keluarga Sadyoko memutuskan untuk hidup berpisah dari keluarganya. Keputusannya itu membuat mereka harus menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung. Dua tahun kemudian keluarga Sadyoko kembali pindah rumah. Kali ini ia pindah ke Ngadijayan. Sebuah desa yang tak jauh dari pusat Kota Solo. Suasana di daerah ini sangatlah ramai meski tak seramai sekarang. Di berbagai tempat di kampung itu sering diadakan pertunjukan wayang kulit. Selain itu rumah-rumah penduduk di kampung itu juga banyak dibuka sebagai tempat penyewaan buku serta suasana malam yang diterangi oleh listrik membuat kampung itu terasa lebih hidup.
Sapardi kecil ialah seorang bocah yang suka kluyuran. Kampung Ngadijayan pun menjadi tempat kluyuran yang tak habis-habisnya untuk dijelajahi. Namun ketika Sapardi beranjak remaja, ia pun kembali pindah rumah yakni di kampung Komplang, sebelah utara kota Solo. Suasana di kampung ini tak seramai di Kampung Ngadijayan. Bahkan listrik pun belum masuk ke daerah ini. Suasana yang menurutnya aneh ini menyebabkan ia memiliki banyak waktu luang dan kesendirian yang tidak bisa ia dapatkan di kota
Keputusannya untuk lebih banyak tinggal di rumah, tak membuat hobi kluyurannya berhenti. Memang secara kasat mata ia tidak lagi kluyuran. Namun dunia batinnya yang kluyuran sambil membongkar pasang kata-kata. Setelah sebulan ia belajar menulis, karyanya yang berupa sajak mulai menghiasi majalah-majalah kebudayaan di Semarang dan tahun-tahun berikutnya sajak-sajak buatannya mulai dimuat di kolom-kolom kebudayaan berbagai penerbitan yang antara lain diasuh oleh H.B. Jassin. Sejak saat itu ia mulai dikenal sebagai sastrawan.
Itulah sepenggal cerita sosok Sapardi Djoko Damono yang diungkap secara gamblang oleh guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini. Buku dengan sampul dominan warna biru ini mengungkap semua hal yang berkaitan dengan Sapardi. Baik karya maupun dunianya. Puisi-Puisi Awal, duka-Mu Abadi, Aquarium dan empat kumpulan puisinya yakni Hujan Bulan Juni, Ayat-Ayat Api, Mata Jendela, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, serta kumpulan cerpennya selama ini juga diungkap dalam buku ciptaan penulis asal Solo ini. Buku jenis nonfiksi ini terasa pas dibaca oleh mahasiswa, dosen serta mereka yang mengaku sebagai pecinta sastra.
Pokok pikirannya yang dijelaskan secara detail dan penggunaan bahasa yang sederhana serta alur ceritanya yang pas membuat buku ciptaan dosen UGM yang pernah menjabat sebagai ketua umum Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta ini enak dibaca. Hanya satu yang disayangkan dalam buku ini yakni desain sampulnya yang kurang menarik. Seharusnya buku yang bermanfaat untuk menambah wawasan dan khasanah di bidang sastra ini memiliki sampul yang menarik agar ketika mata seseorang tertuju pada buku ini maka ia akan tertarik untuk membacanya selain melihat judul bukunya pula.
Sumber inspirasi dan daya cipta seorang pengarang itu berbeda-beda. Ada pengarang yang mulai menulis dari munculnya ide. Ada pula pengarang yang mulai menulis dari rangsangan ketika melihat secarik kertas dan pena atau sebuah mesin ketik di hadapannya. Nah termasuk yang manakah sosok Sapardi Djoko Damono dalam mencipta setiap karyanya. Jawaban pertanyaan ini dapat kita temukan dalam buku ini.
Resensi ini pernah dimuat di Tabloid Gema,
Pers Kampus Unesa
Teater Pikiran, Apaan tuh?
Selamat datang di personal weblogku 
Assalamualaikum Wr. Wb
Salam Sejahtera
Saudara-saudaraku sedunia, beragam modul otak memproses informasi secara paralel di setiap belahan otak dan dari satu belahan ke belahan lainnya, bukan tahap demi tahap atau secara berurutan, tetapi hampir seluruhnya secara serentak. Misalnya, bayangkan Anda sedang duduk di beranda pada suatu hari yang sejuk, segar, dan cerah, sambil membaca buku. Meskipun sistem visual Anda berfokus pada simbol-simbol dan maknanya, ia juga memproses aspek sinar matahari yang memantul dari hiasan gantung kristal yang berayun di jendela. Sementara itu, sistem indra pendengaran Anda sadar bahwa putra tetangga sedang melambung-lambungkan bola basket di pelataran rumahnya. Bau rumput yang baru dipangkas menembus sistem penciuman Anda, dan sensasi di daerah perut bagian bawah mendorong Anda ,berhenti sejenak untuk pergi ke toilet. Setiap sistem dan subsistemnya yang majemuk itu berfungsi seperti teater mini yang masing-masing memainkan film internalnya sendiri.
Lebih konkret dalam dunia pendidikan, teater pikiran terdiri atas lima sistem utama, yakni sistem pembelajaran emosional, sosial, kognitif, fisik, dan reflektif. Kelima sistem yang berbaur menjadi teater mini ini dapat dicontohkan pada kasus berikut: niat dan kemampuan siswa merevisi laporan ilmiah (sistem kognitif) dapat mengalami konflik dengan perasaan tersinggung oleh sindirian guru (sistem emosional), perasaan terkucil dari teman ketika tidak diikutsertakan dalam proyek kelompok (sistem sosial), perasaan tidak nyaman dari detak jantung yang berpacu (sistem fisik), dan perasaan cemas karena pertengkaran orang tua (sistem reflektif). Semua itu seperti film-film pikiran yang saling bersaing menuntut perhatian yang sama.
Jika guru mengembangkan rencana pelajaran dan berinteraksi dengan siswa secara sadar dan setiap hari dengan memperhatikan sistem pembelajaran teater pikiran, maka sekolah bisa menjadi tempat yang didatangi siswa dengan penuh antusias dan sulit untuk ditinggalkan.
Dengan memberikan perhatian kepada setiap sistem pembelajaran alamiah otak (teater pikiran), guru dan siswa bisa mengembangkan komunitas belajar dengan kode perilaku yang di dalamnya setiap orang mengharapkan dan menghargai prestasi dengan pembelajaran aktif sebagai standarnya. Ruang kelas seperti itu mendukung persahabatan dan semua siswa ingin menjadi anggotanya, sehingga setiap individu berupaya menjadi individu terbaik dalam mewujudkan tujuan pembelajaran pribadi. Kita harus melihat apa yang kita inginkan pada mata pikiran kita supaya kita bisa mengubah apa yang kita bayangkan menjadi kenyataan. Seperti yang pernah ditulis oleh seorang penyair yang tidak dikenal: “Anda harus melahirkan imaji Anda karena imaji adalah masa depan yang menunggu untuk dilahirkan.”
Saudara-saudara yang kucintai, kuingin menjadi sebuah biola yang memunyai lekukan tubuh yang elok dan menginspirasi serta mampu mengeluarkan suara yang bagus dan mencerahkan orang yang mendengarnya. Weblog ini dibuat sebagai representasi jelmaan biola impianku. Personal blog ini mengkategorikan diri sebagai blog pendidikan dan pembelajaran. Semoga tampilan lekukan tubuh dan isi blog ini dapat menginspirasi dan mencerahkan Anda. Akhirnya mari kita selalu berhasrat, bervisi, berpengetahuan, bertindak, dan bertafakur untuk menjadi manusia yang unggul. (byu)